Sabtu, 17 April 2021

LAPORAN BACAAN MAGANG 2

 

Laporan bacaan 2 : Kurikulum Dalam Pendidikan

 

Sumber :  file:///C:/Users/User/Contacts/Downloads/AKHYAR%20KURIKULUM.pdf

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

Nim : 11901145

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

 

Seperti yang kita ketahui di Blog ini akan membahas kurikulum yang memliki posisi cukup penting dalam dunia pendidikan dalam mewujudkan suatu cita-cita penyelenggaraan pendidikan, sudah tentu perlu dirumuskan dalam kurikulum karena kurikulum sangat penting dalam membentuk manusia-manusia yang siap pakai, berkepribadian integral dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, di mana di dalam penyelenggaraannya perlu pula suatu pengawasan berupa pengontrolan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kelak mengguncang kekokohannya.

Pendidikan dijadikan sebagai pemacu bagi tersosialisasinya kebutuhan manusia akan nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah moral serta dimensi-dimensi lain yang mendukung perkembangan dunia modern yang semakin kosmopolit (mendunia).

Bermunculannya ide-ide pembaharuan kurikulum dalam tataran lembaga pendidikan, telah menimbulkan beberapa ide baru yang cemerlang di kalangan para pakar pendidikan, sehingga muncul pula berbagai sumber tambahan dalam suatu perumusan kurikulum, termasuk dengan mencuatnya Program Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sedang hangat dibicarakan. Kurikulum yang jitu, memang tidak hanya muncul sekali saja, akan tetapi muncul secara berulang kali menyesuaikan diri dalam wacana kontekstual sesuai dengan zamannya, baik ditinjau dari aspek kealaman (sunnah Allah) maupun aspek-aspek religius lainnya, sesuai dengan berbagai pendekatan yang dianggap mewakili dari berbagai lini kehidupan.

 

 

 

 

 

Kurikulum Menurut Pendapat Para Ahli

 

Menurut Oemar Hamalik beliau menulis didalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran menyatakan bahwa kata kurikulum menjadi suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai gelar atau ijazah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Crow and Crow yang menyatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. Selain itu ada yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Dari beberapa pendapat tadi dapat diketahui bahwa kurikulum pada hakekatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi suatu jenjang kegiatan pendidikan tertentu dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Dengan adanya pengakuan formal seperti ijazah, anak didik memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam melanjutkan pendidikan dan mencari pekerjaan dengan lapangan kerja yang sesuai dengan keahliannya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dunia pendidikan, pandangan tradisional mengenai pendidikan mulai ditinggalkan karena dianggap terlalu sempit dan terbatas. Saylor dan Alexander dalam bukunya Curriculum Planning menyatakan bahwa kurikulum bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi termasuk pula di dalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Smith sebagaimana yang dikutip oleh Burhan Nurgiantoro berpendapat bahwa kurikulum adalah Asequence of potencial experiences it set up in the school for the porpuse of disciplining children and youth in groups way thinking and acting.

Dalam defenisi ini jelas tampak penekanan Smith pada aspek sosial yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Pengertian kurikulum yang disebut terakhir ini sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung yang berpendapat kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian baik yang berada di dalam maupun di luar kelas yang dikelola oleh sekolah.7 Pendapat yang terakhir mengenai kurikulum berbeda dengan pendapat yang dikemukakan sebelumnya di atas.

Perbedaan tersebut terlihat dari segi sumber pelajaran yang termuat dalam kurikulum, jika sebelumnya kurikulum hanya terbatas pada kegiatan pengajaran yang dilakukan di dalam kelas, maka pada pengembangan berikutnya pendidikan dapat pula memanfaatkan berbagai sumber pengajaran yang terdapat di luar kelas seperti perpustakaan, museum, pameran, majalah, surat kabar, siaran televisi, radio, dan sebagainya dengan cara seperti ini para siswa dapat terus mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi kebudayaan dan lain-lain yang terjadi di luar sekolah.

Mengenai kurikulum dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan di sekolah maupun lembaga pendidikan lain, yang memungkinkan majunya sebuah kurikulum tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik pengaruh dari dalam (di kelas) maupun dari luar (luar kelas), dengan cara mengadopsi berbagai pengalaman dan perangkat pengelolaan kurikulum yang terdiri dari kemampuan dan pengalaman seseorang dalam mengaduk, meramu dan mempola kurikulum, dibantu oleh peralatan-peralatan canggih seperti komputer dan sarana informasi lainnya.

 

 

Asas-asas kurikulum

 

 Dalam Karyanya S.Nasution Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, menyebutkan ada 4 asas yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum yaitu :

1.dasar filosofis.

Dasar filsafat mencakup dua masalah, yaitu filsafat negara dan tujuan pendidikan. Filsafat suatu negara atau pandangan hidup suatu bangsa berisi ide-ide, cita-cita, sistem nilai yang harus dipertahankan demi kelangsungan suatu bangsa.

2. psikologis

Dasar psikologis juga merupakan asas yang penting yang harus diperhitungkan dalam kegiatan penyusunan kurikulum. Dalam hal ini terutama menyangkut ilmu jiwa belajar dan ilmu jiwa anak atau ilmu jiwa perkembangan.

a.ilmu jiwa belajar

ilmu jiwa belajar ini merupakan ilmu pengetahuan tentang bagaimana proses belajar itu berlangsung dalam diri seseorang. Teori tentang proses belajar akan mempengaruhi penyusunan dan penyajian kurikulum secara efektif.

b. ilmu jiwa anak

Anak menduduki peranan sentral dalam penyusunan kurikulum, sebab pada dasarnya sekolah dan kurikulum memang dipersiapkan untuk kepentingan anak dalam proses menuju kedewasaan dan kematangannya. Pengetahuan tentang anak mutlak diperlukan karena di situlah akan diketahui minat dan kebutuhannya sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya. Kurikulum yang disusun harus didasarkan pada tingkat perkembangan minat demi kebutuhan anak tersebut.

 

 

 

 

 

3. Sosiologis

 

Anak dipersiapkan untuk terjun di masyarakat dengan dibekali kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Anak perlu dibekali dengan norma-norma nilai, kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan keadaan dan pandangan masyarakat. Masyarakat biasanya menginginkan agar pandangan hidup, nilai-nilai yang diyakini tetap terpelihara dengan aman. Oleh karena itu kebutuhan masyarakat dalam hal ini harus pula diperhitungkan.

4. organisatoris

hal ini berhubungan dengan masalah pengorganisasian kurikulum, yaitu tentang bentuk penyajian pelajaran yang harus disampaikan kepada anak didik. Dari berbagai uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa asas filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan, sedangkan asas psikologis berperan memberikan berbagai prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya, dan sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selanjutnya asas organisatoris berperan memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disusun.

 

Approach (Pendekatan) Kurikulum

 

Dalam rangka pendekatan kurikulum, paling tidak ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yaitu pendekatan religius, dalam arti memperhatikan ilmu-ilmu yang sifatnya naql (kewahyuan) dan pendekatan penalaran (‘aql). Kedua sisi ini bila dipadukan akan membentuk suatu komunitas keilmuan yang luar biasa. Inilah yang selama ini seolah terlupakan dalam benak para pakar kontemporer dewasa ini.

 

 

Muhammad al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang diwahyukan (naql) terdiri dari ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu hadits, ilmu faraidh, ilmu waris, kalam, tasawuf, dan sebagainya. Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui pengalaman, perenungan dapat digolongkan kepada penalaran aql yang terdiri dari aritmatika, geometri, sosial budaya, politik, fisika, biologi, kimia, kedokteran, pertanian, metafisika serta ilmu-ilmu lain yang dihasilkan oleh penalaran manusia yang berkembang sesuai tuntutan zaman dan tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Pengetahuan terbagi dua,

pertama: pengetahuan yang diwahyukan, yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’ân sebagai sumber utama bagi akidah yang benar,

kedua: pengetahuan yang diperoleh, bisa melalui ilmu-ilmu alam yang ditempuh melalui pengalaman, perenungan serta penelusuran akan keagungan Tuhan melalui alam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sahabat bagi keimanan dan lawan bagi ateisme.

 

Isi atau Materi Kurikulum Pendidikan di Sekolah

 

Dalam rangka penelaahan isi atau materi kurikulum pendidikan Islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas sudah tentu akan melibatkan pembicaraan mengenai konsep ilmu. Hal ini disebabkan karena ilmu merupakan sub sistem yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam. Pernyataan bahwa ilmu merupakan sub sistem yang tidak terpisahkan dari pendidikan Islam, juga tersirat dari defenisi pendidikan secara umum, yang dikemukakan al-Attas yaitu “sebagai sesuatu yang ditanamkan secara bertahap ke dalam diri manusia”, di mana sesuatu yang ditanamkan ke dalam secara bertahap ke dalam pendidikan itu, tidak lain adalah kandungan pendidikan, atau dengan kata lain, materi atau isi yang ditanamkan. Hal ini mengacu pada ilmu itu sendiri, walau isi pendidikan seperti yang diutarakan Hasan Langgulung, bukan hanya melibatkan ilmu, tetapi juga keterampilan dan sikap.18 Tetapi dalam konsepsi Naquib al-Attas “sesuatu” yang ditanamkan dalam pendidikan adalah tujuan mencarinya, kendatipun demikian al-Attas tidak menyangkal bahwa ilmu merupakan kandungan pendidikan itu sendiri.

 

Kurikulum sebagai Basis dan Penopang Pendidikan

 

Menganalisa berbagai uraian terdahulu, dapat diinterpretasikan bahwa posisi pendidik di masyarakat modern berbeda dari posisinya yang selama ini diketahui. Pendidik sekarang dipandang sekedar sebagai pejabat yang memperoleh gaji dari negara atau yayasan pribadi dan mengemban tanggung jawab tertentu dalam melaksanakan tugasnya. Kewajibannya berakhir bersama tanggung jawabnya dan dia jarang diharapkan untuk berbuat melebihi tugas dan tanggung jawabnya. Perubahan akibat modernisasi atau komersialisasi telah menyebabkan adanya jarak dan mengeliminasi ikatan-ikatan antara pendidik dengan pengajaran, yang tidak kelihatan namun sangat nyata di semua masyarakat. Pendidik di masyarakat, sebagaimana di dalam masyarakat Islam, lebih dari sekedar pejabat, pendidik merupakan teladan bagi anak didik.

 

Jadi, setelah kita lihat baca dengan seksama perlu kita ketahui dan pahami bahwa Kurikulum sebagai basis pendidikan, bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

 

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar