Selasa, 13 April 2021

Laporan Bacaan Magang 1

           

 

Laporan Bacaan : Kultur Sekolah ( Magang 1 )

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

NIM : 11901145

Sumber : https://www.researchgate.net/publication/332195701_Kultur_Sekolah

 

 

 

 

Assalamua’alaikum wr.wb

 

Pada Blog kali ini, saya ingin membahas tentang Kultur Sekolah. Sebelum kita masuk jauh kedalam materi alangkah lebih baiknya kita perlu tahu apa itu kultur dan sekolah Karena tentu saja dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda dan ketika disambungkan akan menjadi sebuah pengertian.

 Kultur dalam KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan budaya atau kebudayaan atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal atau budi manusia.

Sekolah merupakan suatu lembaga yang digunakan untuk kegiatan belajar bagi para pendidik serta menjadi tempat memberi dan juga menerima pelajaran yang sesuai dengan bidangnya. Sekolah menjadi salah satu tempat untuk mendidik anak-anak dengan maksud untuk memberikan ilmu yang diberikan supaya mereka mampu menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan juga negara. Sekolah memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan bangsa.

 Bersumber dari  Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013 Kultur Sekolah  oleh Ariefa Efianingrum. Dapat dipahami bahwa persekolahan (schooling), sekolah memiliki konsekuensi dan tantangan yang semakin berat, terkait dengan tuntutan masyarakat terhadap kualitas dan layanan pendidikan yang seharusnya diberikan. Sekolah dipercaya sebagai institusi yang menjadi arena pengembangan aneka potensi dan kecerdasan majemuk siswa (multiple intelligences). Oleh karena itu, upaya perbaikan sekolah perlu didorong menjadi aktivitas yang melekat (embedded) dalam setiap gerak perubahan sekolah.

Dalam membangun pendidikan di sekolah, terdapat dua wacana besar:

            1.Wacana pertama adalah academic achievement discourses (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi (meliputi: deregulasi, desentralisasi, perubahan kurikulum, dan pelatihan).

2.Wacana kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” (Suyata, 2000).

Dari Wacana diatas tersebut terbentuk karena adanya pembangunan pendidikan disekolah bisa dikatakan sebagai faktor pendukung agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Ambil saja satu contoh yaitu Perubahan Kurikulum.

Perubahan Kurikulum sangat mempengaruhi kualitas suatu sekolah terutama pendidikan. Arti dari kurikulum itu sendiri adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran

Serta perkembangan individu baik Pendidik dan Peserta didik.

Kunci Keberhasilan Pendidikan seringkali justru terletak pada faktor-faktor yang tidak teramati (intangible) seperti nilai-nilai budaya dan keyakinan. Namun, faktor kultur tersebut seringkali terabaikan dalam upaya perbaikan pendidikan. Berkaitan dengan pendapat tersebut, pendapat yang lain mengemukakan adanya dua

pendekatan dalam perubahan pendidikan di sekolah:

Pertama adalah pendekatan struktural yang memusatkan perhatian pada pengubahan aspek-aspek strukturalbirokratik, seperti job descriptions, tatanan birokrasi, pengaturan hubungan antar unit organisasi, gaya kepemimpinan, dan aspek

struktur sekolah lainnya.

            Kedua adalah pendekatan budaya dengan pusat perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence), yang menekankan pengubahan pada pikiran, kata-kata, sikap,perbuatan dan hati setiap warga sekolah. Pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan struktural”(Sastrapratedja, 2001).

 

 

 

 

Budaya sekolah

 

 Budaya Sekolah merupakan himpunan normanorma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002),

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

 3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Implikasi Kultur Sekolah

 Dalam Perbaikan Sekolah Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah.

Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1.      Visi dan Nilai (Vision and Values)

visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.

 

 

 

2.      Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah

3.      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini.

4.      Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik,dll.

Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1.      Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.

 

 

2.      Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.

3.Karakter Karakter

berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik.

4.Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan..

 

Jadi, Kultur sekolah itu memiliki peran simbolik yang penting dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material yang tangible dan non- material yang intangible. Realitas menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak lagi memadai. Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural tidak perlu saling menegasikan dalam praktiknya.

Wa'alaikumsalam wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar