Laporan Bacaan :
Kultur Sekolah ( Magang 1 )
Oleh : Evilia
Wandari
Kelas : PAI 4B
NIM : 11901145
Sumber : https://www.researchgate.net/publication/332195701_Kultur_Sekolah
Assalamua’alaikum wr.wb
Pada Blog kali
ini, saya ingin membahas tentang Kultur Sekolah. Sebelum kita masuk jauh
kedalam materi alangkah lebih baiknya kita perlu tahu apa itu kultur dan sekolah
Karena tentu saja dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda dan ketika
disambungkan akan menjadi sebuah pengertian.
Kultur dalam
KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan budaya atau kebudayaan atau
segala sesuatu yang berkaitan dengan akal atau budi manusia.
Sekolah merupakan suatu lembaga yang
digunakan untuk kegiatan belajar bagi para pendidik serta menjadi tempat
memberi dan juga menerima pelajaran yang sesuai dengan bidangnya. Sekolah
menjadi salah satu tempat untuk mendidik anak-anak dengan maksud untuk
memberikan ilmu yang diberikan supaya mereka mampu menjadi manusia yang berguna
bagi bangsa dan juga negara. Sekolah memiliki peran yang sangat penting bagi
kehidupan bangsa.
Bersumber dari Jurnal
Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013 Kultur Sekolah oleh Ariefa Efianingrum. Dapat dipahami
bahwa persekolahan (schooling),
sekolah memiliki konsekuensi dan tantangan yang semakin berat, terkait dengan
tuntutan masyarakat terhadap kualitas dan layanan pendidikan yang seharusnya
diberikan. Sekolah dipercaya sebagai institusi yang menjadi arena pengembangan
aneka potensi dan kecerdasan majemuk siswa (multiple intelligences). Oleh
karena itu, upaya perbaikan sekolah perlu didorong menjadi aktivitas yang
melekat (embedded) dalam setiap gerak perubahan sekolah.
Dalam membangun
pendidikan di sekolah, terdapat dua wacana besar:
1.Wacana pertama adalah academic
achievement discourses (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana
dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi (meliputi:
deregulasi, desentralisasi, perubahan kurikulum, dan pelatihan).
2.Wacana kedua
adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait
dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” (Suyata, 2000).
Dari Wacana
diatas tersebut terbentuk karena adanya pembangunan pendidikan disekolah bisa
dikatakan sebagai faktor pendukung agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Ambil
saja satu contoh yaitu Perubahan Kurikulum.
Perubahan
Kurikulum sangat mempengaruhi kualitas suatu sekolah terutama pendidikan. Arti
dari kurikulum itu sendiri adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun
dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran
Serta perkembangan
individu baik Pendidik dan Peserta didik.
Kunci
Keberhasilan Pendidikan seringkali justru terletak pada faktor-faktor yang tidak
teramati (intangible) seperti nilai-nilai budaya dan keyakinan. Namun, faktor
kultur tersebut seringkali terabaikan dalam upaya perbaikan pendidikan. Berkaitan
dengan pendapat tersebut, pendapat yang lain mengemukakan adanya dua
pendekatan dalam
perubahan pendidikan di sekolah:
Pertama adalah pendekatan struktural
yang memusatkan perhatian pada pengubahan aspek-aspek strukturalbirokratik, seperti
job descriptions, tatanan birokrasi, pengaturan hubungan antar unit organisasi,
gaya kepemimpinan, dan aspek
struktur sekolah
lainnya.
Kedua adalah pendekatan budaya dengan pusat
perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence), yang menekankan pengubahan
pada pikiran, kata-kata, sikap,perbuatan dan hati setiap warga sekolah. Pendekatan
budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah akan lebih efektif
dibandingkan dengan pendekatan struktural”(Sastrapratedja,
2001).
Budaya sekolah
Budaya Sekolah merupakan himpunan normanorma,
nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk
persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu
sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan
masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki
seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana
teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah
juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana
mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002),
Budaya sekolah
merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari
waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama
dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak
yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan
merasa.
Dalam
perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk
merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif,
dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga
meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat
misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah
nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya
positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi,
karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.
dikemukakan bahwa
kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang
abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:
1. Nilai-nilai
moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
2. Pribadi-pribadi
yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching
specialist, dan tenaga administrasi.
3. Kurikulum sekolah yang memuat
gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
4. Letak,
lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan
perlengkapan lainnya.
Implikasi Kultur Sekolah
Dalam Perbaikan Sekolah Deal & Peterson
(1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap
berjalannya fungsi sekolah.
Berikut ini
deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi
sekolah:
1.
Visi
dan Nilai (Vision and Values)
visi merupakan citra ideal dan unik
tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang
dicita-citakan.
2.
Upacara
dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Momentum-momentum
penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de
corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah
3.
Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Sejarah
dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya.
Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu
yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini.
4.
Arsitektur
dan Artefak (Architecture and Artifacts)
Sekolah
biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan
tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu
(mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah.
Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah,
dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik,dll.
Adapun
kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi
pengembangan:
1.
Prestasi
Akademik
Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan
iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi
akademik.
2.
Non-Akademik
Prestasi
non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai
prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan
demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang
(space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi,
berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.
3.Karakter Karakter
berkaitan dengan
moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada
dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan
yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan
yang baik.
4.Kelestarian Lingkungan Hidup
Sejumlah sekolah di berbagai level
(SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata,
yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu
diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan..
Jadi, Kultur sekolah itu memiliki
peran simbolik yang penting dalam membentuk pola kultural dalam praktik
kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan
pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses
pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material yang tangible
dan non- material yang intangible. Realitas menunjukkan bahwa kunci
keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak
terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses
restrukturisasi semata, tidak lagi memadai. Namun demikian, restrukturisasi
yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural tidak perlu
saling menegasikan dalam praktiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar