Rabu, 16 Juni 2021

Laporan Bacaan 4

 

 

Laporan Bacaan 4 Magang 1

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

Nim : 11901145

 

Assalamua’alaikum Wr.Wb

 

Hallo..pada minggu lalu saya sudah membahas tentang Strategi jadi  strategi pembelajaran merupakan hal yang tepat akan membina peserta didik untuk berpikir mandiri, kreatif dan sekaligus adaptif terhadap berbagai situasi yang terjadi dan yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, ketika mempersiapkan perkuliahan, dosen atau guru harus memikirkan cara yang tepat, agar mahasiswa, peserta didik, warga belajar mampu memproses informasi yang telah disampai oleh guru, dosen atau para pengajar.

Dan pada kali saya akan membahas tentang media pembelajaran, Apa itu Media pembelajaran? Media pembelajaran adalah media-media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.

Dalam media pembelejaran juga terdapat Landasan-Landasan.

Landasan Penggunaan Media Pembelajaran Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan prilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bunner (1966) yang dikutib Azhar Asyad ada tiga tingkatan utama modus belajar antara lain :

 (a) Pengalaman langsung (enative), adalah mengerjakan, misalnya arti kata simpul dipahami langsung dengan membuat simpul,

 (b) Pegalaman piktorial/gambar (iconic), adalah pengalaman yang diperoleh melalui gambar, misalnya kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan foto, atau film meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat simpul mereka dapat mempelajari dan memahami dari gambar tersebut,

(c) Pengalaman abstrak (symbolic), adalah pembacaan kata simpul dan mencocokkan dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul.

Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indra. Semakin banyak alat indra yang dugunakan untuk menerima dan mengolah informasi tersebut, maka informasi akan dapat bertahan dan tesimpan dalam ingatan. Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone of Experience (kerucut pengalaman Dale).

Macam-macam media pembelajaran

            Media Pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Mulai yang paling kecil sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri, ada media yang diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran. Media pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Media Nonelektronik

a. Media Cetak Media cetak adalah cara untuk menghasilkan atau mnyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses percetakan mekanis atau fotografis.19 Contoh media cetak ini antara lain buku teks, modul, buku petunjuk, grafik, foto, lembar lepas, lembar kerja, dan sebagainya. Media ini menghasilakan materi pembelajaran dalam bentuk salinan tercetak. Dua komponen pokok media ini adalah materi teks verbal dan materi visual yang dikembangkan berdasarkan teori yang berkaitan dengan persepsi visual, membaca, memproses informasi, dan teori belajar.

b. Media Pajang Media pajang umumnya digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi didepan kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, white board, papan magnetik, papan buletin, chart dan pameran. Media pajang paling sederhana dan hampir selalu tersedia disetiap kelas adalah papan tulis.

 c. Media Peraga dan Eksperimen Media peraga dapat berupa alat-alat asli atau tiruan, dan biasanya berada di laboratorium.Media ini biasanya berbentuk model dan hanya digunakan untuk menunjukkan bagian-bagian dari alat yang asli dan prinsip kerja dari alat asli tersebut. Di samping media peraga terdapat pula media eksperimen yang berupa alat-alat asli yang biasanya digunakan untuk kegiatan praktikum.

 

2. Media Elektronik

a. Overhead Projector (OHP) Media transparansi atau overhead transparency (OHT) sering kali disebut dengan nama perangkat kerasnya yaitu OHP (overhead projector). Media transparansi adalah media visual proyeksi, yang dibuat di atas bahan transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 81/2” x 11”, yang digunakan oleh guru untuk memvisualisasikan konsep, proses, fakta, statistik, kerangka outline, atau ringkasan di depan kelompok kecil/besar.20

b. Program Slide Instruksional Slide merupakan media yang diproyeksikan dapat dilihat dengan mudah oleh para siswa di kelas. Slide adalah sebuah gambar transparan yang diproyeksikan oleh cahaya melalui proyektor.21

 c. Program Film Strip Film strip adalah satu rol positif 35 mm yang berisi sederetan gambar yang saling berhubungan dengan sekali proyeksi untuk satu gambar.

 

3. Media Pendidikan Agama Islam

Para Nabi menyebarkan agama kepada kaumnya atau kepada umat manusia bertindak sebagai guru-guru yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana pendidikan keagamaan yang agung dan benar. Usaha Nabi dalam menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, dengan menggunakan media yang tepat yakni melalui media perbuatan Nabi sendiri, dan dengan jalan memberikan contoh teladan yang baik. Sebagai contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah, Nabi selalu menunujukkan sifat-sifat yang terpuji, hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab 21.

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu (yaitu) orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. Nabi selalu memberikan contoh tauladan atau menjadikan dirinya sebagai model dalam mendakwahkan seruan Allah.

Media pendidikan agama adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Semua alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai pendidikan dan pengajaran agama kepada orang lain, segala sesuatu atau benda atau dapat dipakai sebagai media pengajaran agama, seperti;

 1) papan tulis,

 2) buku pelajaran,

3) buletin board dan display,

4) film atau gambar hidup,

5) radio pendidikan,

6) televisi pendidikan,

7) komputer,

8) karyawisata, dan lain-lain.

 

Manfaat Media pembelajaran

Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.27 Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu28 :

a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.

b. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.

Dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran mempunyai arti bahwa media pembelajaran diperbaharui sedemikian rupa sehingga terbentuklah media pembelajaran yang sistematis, terarah serta efektif dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.

 

 

 

Rabu, 09 Juni 2021

Lapora Bacaan 3 Magang 1

 

 

Laporan bacaan 3 : Strategi Pembelajaran


Oleh    : Evilia Wandari

Kelas   : PAI 4B

Nim     : 11901145

 

Assalamua’alaikum Wr.Wb

 

Dalam pembahasan laporan bacaan 2 lalu saya membahas tentang kurikulum dalam pendidikan jadi dalam laporan bacaaan 3 ini saya akan membahas tentang strategi pembelajaran. Perlu kita ketahui dulu bahwa Istilah strategi dewasa ini banyak dipakai oleh bidang-bidang ilmu lainnya, termasuk juga dalam dunia pendidikan. Secara umum strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Kemudian jika dihubungkan dengan kegiatan belajar mengajar, maka strategi dalam artian khusus bisa diartikan sebagai pola umum kegiatan yang dilakukan guru-murid dalam suatu perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. (Abu Ahmadi, dan Joko Tri Prasetya, 1997: 12) Dalam pemilihan strategi haruslah dipilih strategi yang tepat, pengajaran yang diberikan kepada anak didik tidak bersifat paksaan bahkan perilaku pemimpin kadang tidak perlu dilakukan. Sebagai gantinya, para pendidik harus bersikap ngemong atau among.

Para guru seharusnya tidak mengajarkan pengetahuan mengenai dunia secara dogmatik. Sebaliknya mereka hanya berada dibelakang anak didik sambil memberi dorongan untuk manju, secara khusus mengarahkan ke jalan yang benar, dan mengawasi kalau-kalau anak didik menghadapi bahaya atau rintangan. Anak didik harus memiliki kebebasan untuk maju menurut karakter masing-masing dan untuk mengasah hati nuraninya. Dengan demikian tugas pendidik adalah memikirkan dan memilih strategi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya.

demikian tugas pendidik adalah memikirkan dan memilih strategi yangsesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya. Tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan akan dapat tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna, maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran sedemikian rupa sehingga terjalin keterkaitan fungsi antara komponen pembelajaran yang dimaksud. Untuk melaksanakan tugas secara profesional guru diharuskan memiliki wawasan yang mantap tetang strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan belajar atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, baik dalam arti efek instruksional
 sesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya.strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Metode pembelajaran yang bisa dipilih dari konsep strategi pembelajaran yaitu

 1. Ceramah.

2. Diskusi kelompok.

 3. Demonstrasi.

 4. Simulasi.

5. Pengalaman lapangan.

 6. Mind Mapping.

7. Drama dsb.

 

Dalam kurikulum 2013 strategi pembelajaran atau model pembelajaran ada 5,yaitu :

Strategi Inkuiri Learning didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

 

Strategi Problem Based Learning (PBL) merupakan metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch,1995).

 

Strategi Project Based Learning merupakan pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

 

Strategi Saintifik Learning merupakan Proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar  peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.

Unsur Unsur Strategi Pembelajaran

            Supaya dapat merancang strategi pembelajaran yang baik Agar dapat merancang serta melaksanakan strategi pembelajaran yang efektif perlu memperhatikan unsur-unsur strategi dasar atau tahapan langkah sebagai berikut:

1. selalu dijadikan acuan dasar dalam merancang dan melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu tujuan pembelajaran perubahan perilaku tertentu dan operasional dalam arti dapat diukur.

 2. Memilih pendekatan pembelajar, suatu cara pandang dalam menyampaikan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran harus dipertimbang dan dipilih jalan pendekatan utama yang dipandang paling ampuh, paling tepat, dan paling efektif guna mencapai tujuan.

3. Memilih dan menetapkan metode, teknik, dan prosedur pembelajaran.

a. Metode merupakan cara yang dipilih untuk menyampaikan bahan sesuai dengan tujuan pembelajaran

b. Teknik merupakan cara untuk melaksanakan metode dengan sarana penunjang pembelajaran yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kecepatan dan ketepatan belajar untuk mencapai tujuan

c. Merancang Penilaian

d. Merancang Remedial

e. Merancang Pengayaan.

Macam-Macam Strategi.

Secara umum strategi pembelajaran dibagi menjadi tiga, yaitu :

1). Strategi Indukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang memulai dari hal-hal yang khusus barulah menuju hal yang umum.

 2). Strategi Dedukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang umum menuju hal-hal yang khusus

3). Strategi campuran adalah gabungan dari strategi indukatif dan dedukatif. Adapula strategi regresif yaitu strategi pembelajaran yang memakai titik tolak jaman sekarang untuk kemudian menelusuri balik (kebelakang) ke masa lampau yang merupakan latar belakang dari perkembangan kontemporer tersebut.

Ruang Lingkup Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran aktualisasinya berwujud serangkaian dari keseluruhan tindakan strategis guru dalam rangka mewujudkan kegiatan dari tingginya kuantitas dan kualitas hasil belajar yang dicapai. sesuai dengan waktu, fasilitas, maupun kemampuan yang tersedia.

Secara singkat, menurut Slameto strategi pembelajaran mencakup 8 unsur perencanaan yaitu :

 1. Komponen sistem yaitu guru/dosen, siswa/mahasiswa baikdalam ikatan kelas, kelompok maupun perorangan yang akan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar telah disiapkan,

2. Jadwal pelaksanaan , format dan lama kegiatan telah disiapkan,

3. Tugas-tugas belajar yang akan dipelajari.

 4. Materi/bahan belajar, alat pelajarandan alat bantu mengajar yang disiapkan dan diatur,

5. Bahan pengait yang telah direncanakan,

6. Metode dan teknik penyajian telah dipilih, misalnya ceramah, diskusi dan lain sebagainya, dan

7. Media yang akan digunakan. (Slameto, 1991: 91-92) Keseluruhan tindakan strategis guru dalam upaya merealisasikan kegiatan pembelajaran, mencakup dimensi yang bersifat makro (umum) maupun bersifat mikro (khusus).

Dan Secara makro, strategi pembelajaran berkait dengan tindakan strategis guru dalam: (a) memilih dan mengoperasionalkan tujuan pembelajaran (b) memilih dan menetapkan setting pembelajaran (c) pengelolaan bahan ajar (d) pengalokasian waktu (e) pengaturan bentuk aklivitas pembelajaran (f) metode teknik dan prosedur pembelajaran (g) pemanfaatan penggunaan media pembelajaran (h) penerapan prinsip-prinsip pembelajaran (i) penerapan pendekatan pola aktivitas pembelajaran (j) pengemabangan iklim pembelajaran (k) pemilihan pengembangan dan pelaksanaan evaluasi. (Supriadi Saputro, 2000: 23-24).

 

Jadi strategi pembelajaran ini merupakan Proses belajar mengajar konvesional umumnya berlangsung satu arah yang merupakan proses transfer atau pengalihan pengetahuan, informasi, norma, nilai, dan lain-lainnya dari seorang guru atau dosen kepada peserta didik, murid atau mahasiswa. Proses seperti itu dibangun atas dasar anggapan bahwa siswa atau peserta didik ibarat bejana kosong atau kertas putih. Guru, dosen atau pengajarlah yang harus mengisi bejana tersebut atau menulis apapun di kertas putih tersebut. Paradigma muncul, karena tidak lagi melihat siswa, murid, mahasiswa, peserta didik atau warga belajar sebagai bejana kosong atau seperti kertas putih. Pandangan ini menganggap bahwa peserta didik, warga belajar, terutama orang dewasa, sebagai manusia yang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, perasaan, keyakinan, cita-cita, kesenangan dan keterampilan.

Maka dari itu sangat perlu pengalaman mereka harus kita hargai dan diangkat dalam proses dan aktivitas pembelajaran di kelas. Hal ini juga berimplikasi terhadap perlunya strategi pembelajaran yang interaktif baik antara mahasiswa dengan dosen maupun antar mahasiswa. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang tepat akan membina peserta didik untuk berpikir mandiri, kreatif dan sekaligus adaptif terhadap berbagai situasi yang terjadi dan yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, ketika mempersiapkan perkuliahan, dosen atau guru harus memikirkan cara yang tepat, agar mahasiswa, peserta didik, warga belajar mampu memproses informasi yang telah disampai oleh guru, dosen atau para pengajar.

 

Sabtu, 17 April 2021

LAPORAN BACAAN MAGANG 2

 

Laporan bacaan 2 : Kurikulum Dalam Pendidikan

 

Sumber :  file:///C:/Users/User/Contacts/Downloads/AKHYAR%20KURIKULUM.pdf

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

Nim : 11901145

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

 

Seperti yang kita ketahui di Blog ini akan membahas kurikulum yang memliki posisi cukup penting dalam dunia pendidikan dalam mewujudkan suatu cita-cita penyelenggaraan pendidikan, sudah tentu perlu dirumuskan dalam kurikulum karena kurikulum sangat penting dalam membentuk manusia-manusia yang siap pakai, berkepribadian integral dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, di mana di dalam penyelenggaraannya perlu pula suatu pengawasan berupa pengontrolan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kelak mengguncang kekokohannya.

Pendidikan dijadikan sebagai pemacu bagi tersosialisasinya kebutuhan manusia akan nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah moral serta dimensi-dimensi lain yang mendukung perkembangan dunia modern yang semakin kosmopolit (mendunia).

Bermunculannya ide-ide pembaharuan kurikulum dalam tataran lembaga pendidikan, telah menimbulkan beberapa ide baru yang cemerlang di kalangan para pakar pendidikan, sehingga muncul pula berbagai sumber tambahan dalam suatu perumusan kurikulum, termasuk dengan mencuatnya Program Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sedang hangat dibicarakan. Kurikulum yang jitu, memang tidak hanya muncul sekali saja, akan tetapi muncul secara berulang kali menyesuaikan diri dalam wacana kontekstual sesuai dengan zamannya, baik ditinjau dari aspek kealaman (sunnah Allah) maupun aspek-aspek religius lainnya, sesuai dengan berbagai pendekatan yang dianggap mewakili dari berbagai lini kehidupan.

 

 

 

 

 

Kurikulum Menurut Pendapat Para Ahli

 

Menurut Oemar Hamalik beliau menulis didalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran menyatakan bahwa kata kurikulum menjadi suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai gelar atau ijazah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Crow and Crow yang menyatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. Selain itu ada yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Dari beberapa pendapat tadi dapat diketahui bahwa kurikulum pada hakekatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi suatu jenjang kegiatan pendidikan tertentu dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Dengan adanya pengakuan formal seperti ijazah, anak didik memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam melanjutkan pendidikan dan mencari pekerjaan dengan lapangan kerja yang sesuai dengan keahliannya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dunia pendidikan, pandangan tradisional mengenai pendidikan mulai ditinggalkan karena dianggap terlalu sempit dan terbatas. Saylor dan Alexander dalam bukunya Curriculum Planning menyatakan bahwa kurikulum bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi termasuk pula di dalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Smith sebagaimana yang dikutip oleh Burhan Nurgiantoro berpendapat bahwa kurikulum adalah Asequence of potencial experiences it set up in the school for the porpuse of disciplining children and youth in groups way thinking and acting.

Dalam defenisi ini jelas tampak penekanan Smith pada aspek sosial yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Pengertian kurikulum yang disebut terakhir ini sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung yang berpendapat kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian baik yang berada di dalam maupun di luar kelas yang dikelola oleh sekolah.7 Pendapat yang terakhir mengenai kurikulum berbeda dengan pendapat yang dikemukakan sebelumnya di atas.

Perbedaan tersebut terlihat dari segi sumber pelajaran yang termuat dalam kurikulum, jika sebelumnya kurikulum hanya terbatas pada kegiatan pengajaran yang dilakukan di dalam kelas, maka pada pengembangan berikutnya pendidikan dapat pula memanfaatkan berbagai sumber pengajaran yang terdapat di luar kelas seperti perpustakaan, museum, pameran, majalah, surat kabar, siaran televisi, radio, dan sebagainya dengan cara seperti ini para siswa dapat terus mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi kebudayaan dan lain-lain yang terjadi di luar sekolah.

Mengenai kurikulum dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan di sekolah maupun lembaga pendidikan lain, yang memungkinkan majunya sebuah kurikulum tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik pengaruh dari dalam (di kelas) maupun dari luar (luar kelas), dengan cara mengadopsi berbagai pengalaman dan perangkat pengelolaan kurikulum yang terdiri dari kemampuan dan pengalaman seseorang dalam mengaduk, meramu dan mempola kurikulum, dibantu oleh peralatan-peralatan canggih seperti komputer dan sarana informasi lainnya.

 

 

Asas-asas kurikulum

 

 Dalam Karyanya S.Nasution Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, menyebutkan ada 4 asas yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum yaitu :

1.dasar filosofis.

Dasar filsafat mencakup dua masalah, yaitu filsafat negara dan tujuan pendidikan. Filsafat suatu negara atau pandangan hidup suatu bangsa berisi ide-ide, cita-cita, sistem nilai yang harus dipertahankan demi kelangsungan suatu bangsa.

2. psikologis

Dasar psikologis juga merupakan asas yang penting yang harus diperhitungkan dalam kegiatan penyusunan kurikulum. Dalam hal ini terutama menyangkut ilmu jiwa belajar dan ilmu jiwa anak atau ilmu jiwa perkembangan.

a.ilmu jiwa belajar

ilmu jiwa belajar ini merupakan ilmu pengetahuan tentang bagaimana proses belajar itu berlangsung dalam diri seseorang. Teori tentang proses belajar akan mempengaruhi penyusunan dan penyajian kurikulum secara efektif.

b. ilmu jiwa anak

Anak menduduki peranan sentral dalam penyusunan kurikulum, sebab pada dasarnya sekolah dan kurikulum memang dipersiapkan untuk kepentingan anak dalam proses menuju kedewasaan dan kematangannya. Pengetahuan tentang anak mutlak diperlukan karena di situlah akan diketahui minat dan kebutuhannya sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya. Kurikulum yang disusun harus didasarkan pada tingkat perkembangan minat demi kebutuhan anak tersebut.

 

 

 

 

 

3. Sosiologis

 

Anak dipersiapkan untuk terjun di masyarakat dengan dibekali kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Anak perlu dibekali dengan norma-norma nilai, kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan keadaan dan pandangan masyarakat. Masyarakat biasanya menginginkan agar pandangan hidup, nilai-nilai yang diyakini tetap terpelihara dengan aman. Oleh karena itu kebutuhan masyarakat dalam hal ini harus pula diperhitungkan.

4. organisatoris

hal ini berhubungan dengan masalah pengorganisasian kurikulum, yaitu tentang bentuk penyajian pelajaran yang harus disampaikan kepada anak didik. Dari berbagai uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa asas filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan, sedangkan asas psikologis berperan memberikan berbagai prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya, dan sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selanjutnya asas organisatoris berperan memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disusun.

 

Approach (Pendekatan) Kurikulum

 

Dalam rangka pendekatan kurikulum, paling tidak ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yaitu pendekatan religius, dalam arti memperhatikan ilmu-ilmu yang sifatnya naql (kewahyuan) dan pendekatan penalaran (‘aql). Kedua sisi ini bila dipadukan akan membentuk suatu komunitas keilmuan yang luar biasa. Inilah yang selama ini seolah terlupakan dalam benak para pakar kontemporer dewasa ini.

 

 

Muhammad al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang diwahyukan (naql) terdiri dari ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu hadits, ilmu faraidh, ilmu waris, kalam, tasawuf, dan sebagainya. Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui pengalaman, perenungan dapat digolongkan kepada penalaran aql yang terdiri dari aritmatika, geometri, sosial budaya, politik, fisika, biologi, kimia, kedokteran, pertanian, metafisika serta ilmu-ilmu lain yang dihasilkan oleh penalaran manusia yang berkembang sesuai tuntutan zaman dan tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Pengetahuan terbagi dua,

pertama: pengetahuan yang diwahyukan, yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’ân sebagai sumber utama bagi akidah yang benar,

kedua: pengetahuan yang diperoleh, bisa melalui ilmu-ilmu alam yang ditempuh melalui pengalaman, perenungan serta penelusuran akan keagungan Tuhan melalui alam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sahabat bagi keimanan dan lawan bagi ateisme.

 

Isi atau Materi Kurikulum Pendidikan di Sekolah

 

Dalam rangka penelaahan isi atau materi kurikulum pendidikan Islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas sudah tentu akan melibatkan pembicaraan mengenai konsep ilmu. Hal ini disebabkan karena ilmu merupakan sub sistem yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam. Pernyataan bahwa ilmu merupakan sub sistem yang tidak terpisahkan dari pendidikan Islam, juga tersirat dari defenisi pendidikan secara umum, yang dikemukakan al-Attas yaitu “sebagai sesuatu yang ditanamkan secara bertahap ke dalam diri manusia”, di mana sesuatu yang ditanamkan ke dalam secara bertahap ke dalam pendidikan itu, tidak lain adalah kandungan pendidikan, atau dengan kata lain, materi atau isi yang ditanamkan. Hal ini mengacu pada ilmu itu sendiri, walau isi pendidikan seperti yang diutarakan Hasan Langgulung, bukan hanya melibatkan ilmu, tetapi juga keterampilan dan sikap.18 Tetapi dalam konsepsi Naquib al-Attas “sesuatu” yang ditanamkan dalam pendidikan adalah tujuan mencarinya, kendatipun demikian al-Attas tidak menyangkal bahwa ilmu merupakan kandungan pendidikan itu sendiri.

 

Kurikulum sebagai Basis dan Penopang Pendidikan

 

Menganalisa berbagai uraian terdahulu, dapat diinterpretasikan bahwa posisi pendidik di masyarakat modern berbeda dari posisinya yang selama ini diketahui. Pendidik sekarang dipandang sekedar sebagai pejabat yang memperoleh gaji dari negara atau yayasan pribadi dan mengemban tanggung jawab tertentu dalam melaksanakan tugasnya. Kewajibannya berakhir bersama tanggung jawabnya dan dia jarang diharapkan untuk berbuat melebihi tugas dan tanggung jawabnya. Perubahan akibat modernisasi atau komersialisasi telah menyebabkan adanya jarak dan mengeliminasi ikatan-ikatan antara pendidik dengan pengajaran, yang tidak kelihatan namun sangat nyata di semua masyarakat. Pendidik di masyarakat, sebagaimana di dalam masyarakat Islam, lebih dari sekedar pejabat, pendidik merupakan teladan bagi anak didik.

 

Jadi, setelah kita lihat baca dengan seksama perlu kita ketahui dan pahami bahwa Kurikulum sebagai basis pendidikan, bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

 

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Selasa, 13 April 2021

Laporan Bacaan Magang 1

           

 

Laporan Bacaan : Kultur Sekolah ( Magang 1 )

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

NIM : 11901145

Sumber : https://www.researchgate.net/publication/332195701_Kultur_Sekolah

 

 

 

 

Assalamua’alaikum wr.wb

 

Pada Blog kali ini, saya ingin membahas tentang Kultur Sekolah. Sebelum kita masuk jauh kedalam materi alangkah lebih baiknya kita perlu tahu apa itu kultur dan sekolah Karena tentu saja dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda dan ketika disambungkan akan menjadi sebuah pengertian.

 Kultur dalam KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan budaya atau kebudayaan atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal atau budi manusia.

Sekolah merupakan suatu lembaga yang digunakan untuk kegiatan belajar bagi para pendidik serta menjadi tempat memberi dan juga menerima pelajaran yang sesuai dengan bidangnya. Sekolah menjadi salah satu tempat untuk mendidik anak-anak dengan maksud untuk memberikan ilmu yang diberikan supaya mereka mampu menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan juga negara. Sekolah memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan bangsa.

 Bersumber dari  Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013 Kultur Sekolah  oleh Ariefa Efianingrum. Dapat dipahami bahwa persekolahan (schooling), sekolah memiliki konsekuensi dan tantangan yang semakin berat, terkait dengan tuntutan masyarakat terhadap kualitas dan layanan pendidikan yang seharusnya diberikan. Sekolah dipercaya sebagai institusi yang menjadi arena pengembangan aneka potensi dan kecerdasan majemuk siswa (multiple intelligences). Oleh karena itu, upaya perbaikan sekolah perlu didorong menjadi aktivitas yang melekat (embedded) dalam setiap gerak perubahan sekolah.

Dalam membangun pendidikan di sekolah, terdapat dua wacana besar:

            1.Wacana pertama adalah academic achievement discourses (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi (meliputi: deregulasi, desentralisasi, perubahan kurikulum, dan pelatihan).

2.Wacana kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” (Suyata, 2000).

Dari Wacana diatas tersebut terbentuk karena adanya pembangunan pendidikan disekolah bisa dikatakan sebagai faktor pendukung agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Ambil saja satu contoh yaitu Perubahan Kurikulum.

Perubahan Kurikulum sangat mempengaruhi kualitas suatu sekolah terutama pendidikan. Arti dari kurikulum itu sendiri adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran

Serta perkembangan individu baik Pendidik dan Peserta didik.

Kunci Keberhasilan Pendidikan seringkali justru terletak pada faktor-faktor yang tidak teramati (intangible) seperti nilai-nilai budaya dan keyakinan. Namun, faktor kultur tersebut seringkali terabaikan dalam upaya perbaikan pendidikan. Berkaitan dengan pendapat tersebut, pendapat yang lain mengemukakan adanya dua

pendekatan dalam perubahan pendidikan di sekolah:

Pertama adalah pendekatan struktural yang memusatkan perhatian pada pengubahan aspek-aspek strukturalbirokratik, seperti job descriptions, tatanan birokrasi, pengaturan hubungan antar unit organisasi, gaya kepemimpinan, dan aspek

struktur sekolah lainnya.

            Kedua adalah pendekatan budaya dengan pusat perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence), yang menekankan pengubahan pada pikiran, kata-kata, sikap,perbuatan dan hati setiap warga sekolah. Pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan struktural”(Sastrapratedja, 2001).

 

 

 

 

Budaya sekolah

 

 Budaya Sekolah merupakan himpunan normanorma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002),

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

 3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Implikasi Kultur Sekolah

 Dalam Perbaikan Sekolah Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah.

Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1.      Visi dan Nilai (Vision and Values)

visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.

 

 

 

2.      Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah

3.      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini.

4.      Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik,dll.

Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1.      Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.

 

 

2.      Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.

3.Karakter Karakter

berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik.

4.Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan..

 

Jadi, Kultur sekolah itu memiliki peran simbolik yang penting dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material yang tangible dan non- material yang intangible. Realitas menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak lagi memadai. Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural tidak perlu saling menegasikan dalam praktiknya.

Wa'alaikumsalam wr.wb

Rabu, 27 November 2019

Rasa Dan Logika



The feeling of wanting to always be together?ya begitulah ketika hati sudah tak mau sejalan dengan fikiran,terkadang hal yang tak mudah selalu ingin didapati tanpa sadar itu semua hanya mimpi dan akan selalu menjadi mimpi ketika seseorang mendambakannya.itu semua hanya hati yang bisa menjawab semua perkara tersebut sebab keberadaan itu muncul ketika hati mulai berkata ini dan itu.
Rasa dan logika? Hm ini mungkin sulit untuk dibicarakan karena menyangkut perihal perasaan terutama bagi seorang Long Distance relationship(LDR) ada yang pernah mengalami?untuk yang sedang berada diposisi ini jangan takut dibilang sebagai pasangan halu. Haha nothing is not posibble.
Percaya dan yakin semua itu bisa menjadi sebuah kenyataan terutama dalam keinginan bertemu,jangan menyerah ketika sebuah perkara masuk tanpa meminta izin.

Jangan lupa senyum hari ini :)

RESENSI BUKU

Evilia wandari
PAI B 1


Assalamualaikum wr.wb




Tugas mata kuliah bahasa indonesia kali ini adalah meresensi buku hasil karya dalam provinsi yaitu kalimantan barat. Inilah Hasil dari meresensi buku yang sudah saya selesaikan.
  
Hasil resensi :

1.identitas buku

judul buku : Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan
Pengarang : Fathur Rosi,S.Pd,M.Pd dan Sulistyowati,S.Pd,M.Pd
Penerbit : Bening pustaka
Tahun terbit : 2018
Tebal halaman : x+139 halaman
Uk buku : 14cm x 21cm
Tata letak dan desain : Ativyola
Desain Sampul : Nita
Penyunting : Siti Fatimah Zahro M,Pd.I
Cetakan : pertama,desember 2018
Nomor Edisi : 978-602-6694-98-0


2. Sinopsis

Resensi buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, buku yang berjudul"Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan"ini berisi hasil tugas mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidiyah ,jurusan Pendidikan Agama Islam dan jurusan Pendidikan Anak Usia Dini FTIK IAIN Pontianak pada semester 2 strata S-1. Membahas mengenai perjuangan bangsa indonesia yang jauh sebelum indonesia merdeka.inilah kenapa buku ini diterbitkan sebagai upaya dan bukti bahwa sesungguhnya mahasiswa memiliki kepedulian terhadap bangsa indonesia dilihat dari beragamnya suku, etnis, agama, dan budaya yang ada di indonesia. 
Tampak jelas bahwa mahasiswa FTIK IAIN Pontianak Semester 2 ini berhasrat untuk dapat menghadirkan sesuatu pemikiran ataupun perspektif teoritis dalam pengembangan pembelajaran ilmu pengetahuan. 

3.kekurangan

Resensi buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dalam buku ini memiliki kelemahan yaitu masih belum layak untuk dicetak karena masih banyak kekurangannya baik dalam penulisan, sumber ,kutipan yang diambil. 

4.Kelebihan

Resensi buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,dalam buku ini memiliki kelebihan yaitu buku ini adalah hasil serangkaian tugas mahasiswa FTIK IAIN Pontianak dan buku ini juga sudah melewati proses hasil diskusi serta perdebatan pemikiran yang dilakukan mahasiswa didalam kelas.

Itulah hasil resensi yang saya dapati, sekian terima kasih. 


Wasalamualaikum wr. Wb



Kamis, 24 Oktober 2019

Kegiatan literasi mahasiswa PAI

Evilia wandari
PAI 1 B


Assalamualaikum wr.wb

Pada tugas kali ini saya akan meringkas apa yang saya dapati dari kegiatan literasi.

Sebelum saya membahas ke materi ini akan lebih baik terlebih dahulu saya menceritakan sedikit tujuan kegiatan ini.kegiatan ini merupakan kegiatan bulanan/minggu yang diadakan oleh KLIK( Komunitas Literasi Islam Khatuliswa)yang merupakan sastra journey.  Diadakan pada hari minggu ,20 oktober 2019, lokasi " Halaman parkiran A Yani Mega Mall Pontianak".


Disana juga terdapat stand dari pihak IAIN Pontianak yang menyediakan buku bagi siapa yang ingin membaca,dan buku tersebut ditulis oleh para dosen IAIN pontianak itu sendiri.

LITERASI ISLAM DAN  PERADABAN GEMILANG.


1.Sejarah Cordoba

   Bermula ketika Kerajaan Bani Umaiyyah diambil alih oleh Kerajaan Bani Abassiyah pada tahun 750 sehingga pusat peradaban Islam dipindahkan dari Damaskus, Syria, ke Baghdad. Keadaan itu memaksa Abdulrahman Al-Dakhil yana kemudian menjadikan Kerajaan Bani Umaiyah kedua di Spanyol dengan Cordoba sebagai Ibu Kota.
Bani Umaiyyah kedua ini bertahan selama hampir 800 tahun (756-1492). Perkembangannya pesat, menyaingi Kerajaan Bani Abassiyah yang berpusat di Baghdad ketika itu. Cordoba menjadi bandar terkaya di Eropa. Di masa Khalifah Abdul Rahman I itulah, Masjid Cordoba dibangun
Pada saat pemerintahan Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibu kota Spanyol. Cordoba saat itu juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Volume kunjungan ke perpustakaan mencapai angka 400.000 kunjungan.
Cordoba mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Pada masa kekuasaan Abdurhaman III, didirikan Universitas Cordoba yang terkenal dan menjadi kebanggaan umat Islam.
Cordoba menjadi kota termegah pada masanya. Kejayaannya banyak menginspirasi penulis Barat dan banyak digambarkan oleh para ahli sejarah ataupun politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi Barat di masa sekarang.


2.Titah Literasi dari Allah

-Nabi Adam diberi kemampuan membaca(menyebutkan)nama-nama benda
-Nabi Musa diajarkan membaca alam lewat nabi khaidir
-Nabi Yusuf As.yang diberikan ilmu pengetahuan membaca bahkan mentakwilkan mimpi-mimpi
-Nabi Isa As. Diberikan kemampuan membaca dan menyembuhkan penyakit
-Nabi Sulaiman diberikan kemampuan membaca bahasa binatang

3.Mengintip Jejak Sejarah Literasi Islam







•Tahun 815 dibaghdad terdapat lebih dari 1 juta buku di Baitul Hikmah
•Upah dari penerbitan buku bagi para  Penulis adalah mas seberat buku yang ditulis
•Tahun 891,terdapat lebih dari 100 perpustakaan umum di Baghdad.
•Abad ke 10 Sultan Al-Hakim dari Cardoba punya koleksi pribadi 400 rb buku
•Sultan Al-Aziz dari Dinasti .Fatimiyah punya koleksi 1,6 juta buku.


4.Ilmuwan Muslim

1)Al-Nadim (wafat thn 990,abad ke 10);pelapor pembuat katalog/ensiklopendi kebudayaan pertama
2)Ma'mu Al-Rasyid (tahun 815,abad ke9);pelopor pendiri perpustakaan umum pertama didunia yang dikenal dengan darul hikmah di baghdad.

3)Nizam Al-Mulk(tahun 1067);pelopor pendiri universitas modern pertama di dunia yang dikenal dengan nizamiyyah(ditiru sistemnya oleh Oxford Universitas Inggris).dan lain lain.


Baiklah mungkin ini saja yang dapat saya sampaikan dalam mengerjakan tugas literasi ini,terima kasih


Wasalamualaikum wr.wb