Laporan bacaan 2 :
Kurikulum Dalam Pendidikan
Sumber : file:///C:/Users/User/Contacts/Downloads/AKHYAR%20KURIKULUM.pdf
Oleh : Evilia
Wandari
Kelas : PAI 4B
Nim : 11901145
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Seperti yang kita ketahui di Blog ini akan membahas
kurikulum yang memliki posisi cukup penting dalam dunia pendidikan dalam mewujudkan
suatu cita-cita penyelenggaraan pendidikan, sudah tentu perlu dirumuskan dalam
kurikulum karena kurikulum sangat penting dalam membentuk manusia-manusia yang
siap pakai, berkepribadian integral dan menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, di mana di dalam penyelenggaraannya perlu pula suatu pengawasan
berupa pengontrolan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kelak mengguncang
kekokohannya.
Pendidikan dijadikan sebagai pemacu bagi tersosialisasinya
kebutuhan manusia akan nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah moral serta
dimensi-dimensi lain yang mendukung perkembangan dunia modern yang semakin
kosmopolit (mendunia).
Bermunculannya ide-ide pembaharuan kurikulum dalam tataran
lembaga pendidikan, telah menimbulkan beberapa ide baru yang cemerlang di
kalangan para pakar pendidikan, sehingga muncul pula berbagai sumber tambahan
dalam suatu perumusan kurikulum, termasuk dengan mencuatnya Program Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) yang sedang hangat dibicarakan. Kurikulum yang jitu,
memang tidak hanya muncul sekali saja, akan tetapi muncul secara berulang kali
menyesuaikan diri dalam wacana kontekstual sesuai dengan zamannya, baik
ditinjau dari aspek kealaman (sunnah Allah) maupun aspek-aspek religius
lainnya, sesuai dengan berbagai pendekatan yang dianggap mewakili dari berbagai
lini kehidupan.
Kurikulum Menurut
Pendapat Para Ahli
Menurut Oemar Hamalik beliau menulis didalam bukunya Kurikulum
dan Pembelajaran menyatakan bahwa kata kurikulum menjadi suatu istilah yang
digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk
mencapai gelar atau ijazah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Crow and Crow yang menyatakan bahwa
kurikulum adalah rancangan pengajaran yang disusun secara sistematis yang
diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan
tertentu. Selain itu ada yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Dari beberapa pendapat tadi dapat diketahui bahwa kurikulum
pada hakekatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi suatu jenjang kegiatan
pendidikan tertentu dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulus
dan berhak mendapatkan ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Dengan adanya
pengakuan formal seperti ijazah, anak didik memperoleh kesempatan yang lebih
besar dalam melanjutkan pendidikan dan mencari pekerjaan dengan lapangan kerja
yang sesuai dengan keahliannya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan kemajuan dunia pendidikan, pandangan tradisional mengenai pendidikan mulai
ditinggalkan karena dianggap terlalu sempit dan terbatas. Saylor dan Alexander
dalam bukunya Curriculum Planning menyatakan bahwa kurikulum bukan sekedar
memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi termasuk pula di dalamnya segala
usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Smith sebagaimana yang
dikutip oleh Burhan Nurgiantoro berpendapat bahwa kurikulum adalah Asequence of potencial experiences it set up in the school for the
porpuse of disciplining children and youth in groups way thinking and acting.
Dalam defenisi ini jelas tampak penekanan Smith pada aspek
sosial yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Pengertian kurikulum
yang disebut terakhir ini sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung yang
berpendapat kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan,
sosial, olah raga dan kesenian baik yang berada di dalam maupun di luar kelas
yang dikelola oleh sekolah.7 Pendapat yang terakhir mengenai kurikulum berbeda
dengan pendapat yang dikemukakan sebelumnya di atas.
Perbedaan tersebut terlihat dari segi sumber pelajaran yang
termuat dalam kurikulum, jika sebelumnya kurikulum hanya terbatas pada kegiatan
pengajaran yang dilakukan di dalam kelas, maka pada pengembangan berikutnya
pendidikan dapat pula memanfaatkan berbagai sumber pengajaran yang terdapat di
luar kelas seperti perpustakaan, museum, pameran, majalah, surat kabar, siaran
televisi, radio, dan sebagainya dengan cara seperti ini para siswa dapat terus
mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi kebudayaan dan
lain-lain yang terjadi di luar sekolah.
Mengenai kurikulum dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum
bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat
proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti
pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada
di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat
kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware)
maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan yang diinginkan.
Oleh sebab itu, sistem pendidikan di sekolah maupun lembaga
pendidikan lain, yang memungkinkan majunya sebuah kurikulum tidak terlepas dari
berbagai pengaruh, baik pengaruh dari dalam (di kelas) maupun dari luar (luar
kelas), dengan cara mengadopsi berbagai pengalaman dan perangkat pengelolaan
kurikulum yang terdiri dari kemampuan dan pengalaman seseorang dalam mengaduk,
meramu dan mempola kurikulum, dibantu oleh peralatan-peralatan canggih seperti komputer
dan sarana informasi lainnya.
Asas-asas kurikulum
Dalam Karyanya S.Nasution
Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, menyebutkan ada 4 asas yang harus
dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum yaitu :
1.dasar filosofis.
Dasar filsafat mencakup dua masalah, yaitu filsafat negara
dan tujuan pendidikan. Filsafat suatu negara atau pandangan hidup suatu bangsa
berisi ide-ide, cita-cita, sistem nilai yang harus dipertahankan demi
kelangsungan suatu bangsa.
2. psikologis
Dasar psikologis juga merupakan asas yang penting yang harus
diperhitungkan dalam kegiatan penyusunan kurikulum. Dalam hal ini terutama
menyangkut ilmu jiwa belajar dan ilmu jiwa anak atau ilmu jiwa perkembangan.
a.ilmu jiwa belajar
ilmu jiwa belajar ini merupakan ilmu pengetahuan tentang
bagaimana proses belajar itu berlangsung dalam diri seseorang. Teori tentang
proses belajar akan mempengaruhi penyusunan dan penyajian kurikulum secara
efektif.
b. ilmu jiwa
anak
Anak menduduki
peranan sentral dalam penyusunan kurikulum, sebab pada dasarnya sekolah dan
kurikulum memang dipersiapkan untuk kepentingan anak dalam proses menuju
kedewasaan dan kematangannya. Pengetahuan tentang anak mutlak diperlukan karena
di situlah akan diketahui minat dan kebutuhannya sesuai dengan tingkat
perkembangan jiwanya. Kurikulum yang disusun harus didasarkan pada tingkat
perkembangan minat demi kebutuhan anak tersebut.
3. Sosiologis
Anak dipersiapkan untuk terjun di
masyarakat dengan dibekali kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan
masyarakat. Anak perlu dibekali dengan norma-norma nilai, kebiasaan-kebiasaan
yang sesuai dengan keadaan dan pandangan masyarakat. Masyarakat biasanya
menginginkan agar pandangan hidup, nilai-nilai yang diyakini tetap terpelihara
dengan aman. Oleh karena itu kebutuhan masyarakat dalam hal ini harus pula
diperhitungkan.
4. organisatoris
hal ini berhubungan dengan
masalah pengorganisasian kurikulum, yaitu tentang bentuk penyajian pelajaran
yang harus disampaikan kepada anak didik. Dari berbagai uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa asas filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum
pendidikan, sedangkan asas psikologis berperan memberikan berbagai prinsip
tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya serta cara menyampaikan
bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai anak didik sesuai dengan tahap
perkembangannya, dan sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa
saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selanjutnya asas organisatoris
berperan memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan pelajaran itu
disusun.
Approach (Pendekatan)
Kurikulum
Dalam rangka pendekatan kurikulum, paling tidak ada dua sisi
yang perlu diperhatikan, yaitu pendekatan religius, dalam arti memperhatikan
ilmu-ilmu yang sifatnya naql (kewahyuan) dan pendekatan penalaran (‘aql). Kedua
sisi ini bila dipadukan akan membentuk suatu komunitas keilmuan yang luar biasa.
Inilah yang selama ini seolah terlupakan dalam benak para pakar kontemporer
dewasa ini.
Muhammad al-Ghazali menyatakan
bahwa ilmu pengetahuan yang diwahyukan (naql) terdiri dari ilmu-ilmu al-Qur’an,
ilmu-ilmu hadits, ilmu faraidh, ilmu waris, kalam, tasawuf, dan sebagainya.
Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui pengalaman, perenungan dapat digolongkan
kepada penalaran aql yang terdiri dari aritmatika, geometri, sosial budaya,
politik, fisika, biologi, kimia, kedokteran, pertanian, metafisika serta ilmu-ilmu
lain yang dihasilkan oleh penalaran manusia yang berkembang sesuai tuntutan
zaman dan tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Pengetahuan terbagi dua,
pertama:
pengetahuan yang diwahyukan, yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’ân sebagai
sumber utama bagi akidah yang benar,
kedua:
pengetahuan yang diperoleh, bisa melalui ilmu-ilmu alam yang ditempuh melalui
pengalaman, perenungan serta penelusuran akan keagungan Tuhan melalui alam.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sahabat bagi keimanan dan lawan
bagi ateisme.
Isi
atau Materi Kurikulum Pendidikan di Sekolah
Dalam rangka penelaahan isi atau
materi kurikulum pendidikan Islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas sudah
tentu akan melibatkan pembicaraan mengenai konsep ilmu. Hal ini disebabkan karena
ilmu merupakan sub sistem yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam.
Pernyataan bahwa ilmu merupakan sub sistem yang tidak terpisahkan dari
pendidikan Islam, juga tersirat dari defenisi pendidikan secara umum, yang
dikemukakan al-Attas yaitu “sebagai sesuatu yang ditanamkan secara bertahap ke
dalam diri manusia”, di mana sesuatu yang ditanamkan ke dalam secara bertahap
ke dalam pendidikan itu, tidak lain adalah kandungan pendidikan, atau dengan
kata lain, materi atau isi yang ditanamkan. Hal ini mengacu pada ilmu itu
sendiri, walau isi pendidikan seperti yang diutarakan Hasan Langgulung, bukan
hanya melibatkan ilmu, tetapi juga keterampilan dan sikap.18 Tetapi dalam
konsepsi Naquib al-Attas “sesuatu” yang ditanamkan dalam pendidikan adalah
tujuan mencarinya, kendatipun demikian al-Attas tidak menyangkal bahwa ilmu
merupakan kandungan pendidikan itu sendiri.
Kurikulum
sebagai Basis dan Penopang Pendidikan
Menganalisa berbagai uraian
terdahulu, dapat diinterpretasikan bahwa posisi pendidik di masyarakat modern
berbeda dari posisinya yang selama ini diketahui. Pendidik sekarang dipandang
sekedar sebagai pejabat yang memperoleh gaji dari negara atau yayasan pribadi
dan mengemban tanggung jawab tertentu dalam melaksanakan tugasnya. Kewajibannya
berakhir bersama tanggung jawabnya dan dia jarang diharapkan untuk berbuat
melebihi tugas dan tanggung jawabnya. Perubahan akibat modernisasi atau
komersialisasi telah menyebabkan adanya jarak dan mengeliminasi ikatan-ikatan
antara pendidik dengan pengajaran, yang tidak kelihatan namun sangat nyata di
semua masyarakat. Pendidik di masyarakat, sebagaimana di dalam masyarakat
Islam, lebih dari sekedar pejabat, pendidik merupakan teladan bagi anak didik.
Jadi, setelah kita lihat baca
dengan seksama perlu kita ketahui dan pahami bahwa Kurikulum sebagai basis
pendidikan, bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi
seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang
diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran
baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum,
majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik
keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Wa’alaikumsalam Wr.Wb