Sabtu, 17 April 2021

LAPORAN BACAAN MAGANG 2

 

Laporan bacaan 2 : Kurikulum Dalam Pendidikan

 

Sumber :  file:///C:/Users/User/Contacts/Downloads/AKHYAR%20KURIKULUM.pdf

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

Nim : 11901145

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

 

Seperti yang kita ketahui di Blog ini akan membahas kurikulum yang memliki posisi cukup penting dalam dunia pendidikan dalam mewujudkan suatu cita-cita penyelenggaraan pendidikan, sudah tentu perlu dirumuskan dalam kurikulum karena kurikulum sangat penting dalam membentuk manusia-manusia yang siap pakai, berkepribadian integral dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, di mana di dalam penyelenggaraannya perlu pula suatu pengawasan berupa pengontrolan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kelak mengguncang kekokohannya.

Pendidikan dijadikan sebagai pemacu bagi tersosialisasinya kebutuhan manusia akan nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah moral serta dimensi-dimensi lain yang mendukung perkembangan dunia modern yang semakin kosmopolit (mendunia).

Bermunculannya ide-ide pembaharuan kurikulum dalam tataran lembaga pendidikan, telah menimbulkan beberapa ide baru yang cemerlang di kalangan para pakar pendidikan, sehingga muncul pula berbagai sumber tambahan dalam suatu perumusan kurikulum, termasuk dengan mencuatnya Program Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sedang hangat dibicarakan. Kurikulum yang jitu, memang tidak hanya muncul sekali saja, akan tetapi muncul secara berulang kali menyesuaikan diri dalam wacana kontekstual sesuai dengan zamannya, baik ditinjau dari aspek kealaman (sunnah Allah) maupun aspek-aspek religius lainnya, sesuai dengan berbagai pendekatan yang dianggap mewakili dari berbagai lini kehidupan.

 

 

 

 

 

Kurikulum Menurut Pendapat Para Ahli

 

Menurut Oemar Hamalik beliau menulis didalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran menyatakan bahwa kata kurikulum menjadi suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai gelar atau ijazah. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Crow and Crow yang menyatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. Selain itu ada yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematik dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Dari beberapa pendapat tadi dapat diketahui bahwa kurikulum pada hakekatnya adalah rancangan mata pelajaran bagi suatu jenjang kegiatan pendidikan tertentu dan dengan menguasainya seseorang dapat dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Dengan adanya pengakuan formal seperti ijazah, anak didik memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam melanjutkan pendidikan dan mencari pekerjaan dengan lapangan kerja yang sesuai dengan keahliannya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dunia pendidikan, pandangan tradisional mengenai pendidikan mulai ditinggalkan karena dianggap terlalu sempit dan terbatas. Saylor dan Alexander dalam bukunya Curriculum Planning menyatakan bahwa kurikulum bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi termasuk pula di dalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Smith sebagaimana yang dikutip oleh Burhan Nurgiantoro berpendapat bahwa kurikulum adalah Asequence of potencial experiences it set up in the school for the porpuse of disciplining children and youth in groups way thinking and acting.

Dalam defenisi ini jelas tampak penekanan Smith pada aspek sosial yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Pengertian kurikulum yang disebut terakhir ini sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung yang berpendapat kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian baik yang berada di dalam maupun di luar kelas yang dikelola oleh sekolah.7 Pendapat yang terakhir mengenai kurikulum berbeda dengan pendapat yang dikemukakan sebelumnya di atas.

Perbedaan tersebut terlihat dari segi sumber pelajaran yang termuat dalam kurikulum, jika sebelumnya kurikulum hanya terbatas pada kegiatan pengajaran yang dilakukan di dalam kelas, maka pada pengembangan berikutnya pendidikan dapat pula memanfaatkan berbagai sumber pengajaran yang terdapat di luar kelas seperti perpustakaan, museum, pameran, majalah, surat kabar, siaran televisi, radio, dan sebagainya dengan cara seperti ini para siswa dapat terus mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi kebudayaan dan lain-lain yang terjadi di luar sekolah.

Mengenai kurikulum dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan di sekolah maupun lembaga pendidikan lain, yang memungkinkan majunya sebuah kurikulum tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik pengaruh dari dalam (di kelas) maupun dari luar (luar kelas), dengan cara mengadopsi berbagai pengalaman dan perangkat pengelolaan kurikulum yang terdiri dari kemampuan dan pengalaman seseorang dalam mengaduk, meramu dan mempola kurikulum, dibantu oleh peralatan-peralatan canggih seperti komputer dan sarana informasi lainnya.

 

 

Asas-asas kurikulum

 

 Dalam Karyanya S.Nasution Asas-Asas Pengembangan Kurikulum, menyebutkan ada 4 asas yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum yaitu :

1.dasar filosofis.

Dasar filsafat mencakup dua masalah, yaitu filsafat negara dan tujuan pendidikan. Filsafat suatu negara atau pandangan hidup suatu bangsa berisi ide-ide, cita-cita, sistem nilai yang harus dipertahankan demi kelangsungan suatu bangsa.

2. psikologis

Dasar psikologis juga merupakan asas yang penting yang harus diperhitungkan dalam kegiatan penyusunan kurikulum. Dalam hal ini terutama menyangkut ilmu jiwa belajar dan ilmu jiwa anak atau ilmu jiwa perkembangan.

a.ilmu jiwa belajar

ilmu jiwa belajar ini merupakan ilmu pengetahuan tentang bagaimana proses belajar itu berlangsung dalam diri seseorang. Teori tentang proses belajar akan mempengaruhi penyusunan dan penyajian kurikulum secara efektif.

b. ilmu jiwa anak

Anak menduduki peranan sentral dalam penyusunan kurikulum, sebab pada dasarnya sekolah dan kurikulum memang dipersiapkan untuk kepentingan anak dalam proses menuju kedewasaan dan kematangannya. Pengetahuan tentang anak mutlak diperlukan karena di situlah akan diketahui minat dan kebutuhannya sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya. Kurikulum yang disusun harus didasarkan pada tingkat perkembangan minat demi kebutuhan anak tersebut.

 

 

 

 

 

3. Sosiologis

 

Anak dipersiapkan untuk terjun di masyarakat dengan dibekali kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Anak perlu dibekali dengan norma-norma nilai, kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan keadaan dan pandangan masyarakat. Masyarakat biasanya menginginkan agar pandangan hidup, nilai-nilai yang diyakini tetap terpelihara dengan aman. Oleh karena itu kebutuhan masyarakat dalam hal ini harus pula diperhitungkan.

4. organisatoris

hal ini berhubungan dengan masalah pengorganisasian kurikulum, yaitu tentang bentuk penyajian pelajaran yang harus disampaikan kepada anak didik. Dari berbagai uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa asas filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan, sedangkan asas psikologis berperan memberikan berbagai prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya, dan sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selanjutnya asas organisatoris berperan memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan pelajaran itu disusun.

 

Approach (Pendekatan) Kurikulum

 

Dalam rangka pendekatan kurikulum, paling tidak ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yaitu pendekatan religius, dalam arti memperhatikan ilmu-ilmu yang sifatnya naql (kewahyuan) dan pendekatan penalaran (‘aql). Kedua sisi ini bila dipadukan akan membentuk suatu komunitas keilmuan yang luar biasa. Inilah yang selama ini seolah terlupakan dalam benak para pakar kontemporer dewasa ini.

 

 

Muhammad al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang diwahyukan (naql) terdiri dari ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu-ilmu hadits, ilmu faraidh, ilmu waris, kalam, tasawuf, dan sebagainya. Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui pengalaman, perenungan dapat digolongkan kepada penalaran aql yang terdiri dari aritmatika, geometri, sosial budaya, politik, fisika, biologi, kimia, kedokteran, pertanian, metafisika serta ilmu-ilmu lain yang dihasilkan oleh penalaran manusia yang berkembang sesuai tuntutan zaman dan tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Pengetahuan terbagi dua,

pertama: pengetahuan yang diwahyukan, yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’ân sebagai sumber utama bagi akidah yang benar,

kedua: pengetahuan yang diperoleh, bisa melalui ilmu-ilmu alam yang ditempuh melalui pengalaman, perenungan serta penelusuran akan keagungan Tuhan melalui alam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sahabat bagi keimanan dan lawan bagi ateisme.

 

Isi atau Materi Kurikulum Pendidikan di Sekolah

 

Dalam rangka penelaahan isi atau materi kurikulum pendidikan Islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas sudah tentu akan melibatkan pembicaraan mengenai konsep ilmu. Hal ini disebabkan karena ilmu merupakan sub sistem yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan Islam. Pernyataan bahwa ilmu merupakan sub sistem yang tidak terpisahkan dari pendidikan Islam, juga tersirat dari defenisi pendidikan secara umum, yang dikemukakan al-Attas yaitu “sebagai sesuatu yang ditanamkan secara bertahap ke dalam diri manusia”, di mana sesuatu yang ditanamkan ke dalam secara bertahap ke dalam pendidikan itu, tidak lain adalah kandungan pendidikan, atau dengan kata lain, materi atau isi yang ditanamkan. Hal ini mengacu pada ilmu itu sendiri, walau isi pendidikan seperti yang diutarakan Hasan Langgulung, bukan hanya melibatkan ilmu, tetapi juga keterampilan dan sikap.18 Tetapi dalam konsepsi Naquib al-Attas “sesuatu” yang ditanamkan dalam pendidikan adalah tujuan mencarinya, kendatipun demikian al-Attas tidak menyangkal bahwa ilmu merupakan kandungan pendidikan itu sendiri.

 

Kurikulum sebagai Basis dan Penopang Pendidikan

 

Menganalisa berbagai uraian terdahulu, dapat diinterpretasikan bahwa posisi pendidik di masyarakat modern berbeda dari posisinya yang selama ini diketahui. Pendidik sekarang dipandang sekedar sebagai pejabat yang memperoleh gaji dari negara atau yayasan pribadi dan mengemban tanggung jawab tertentu dalam melaksanakan tugasnya. Kewajibannya berakhir bersama tanggung jawabnya dan dia jarang diharapkan untuk berbuat melebihi tugas dan tanggung jawabnya. Perubahan akibat modernisasi atau komersialisasi telah menyebabkan adanya jarak dan mengeliminasi ikatan-ikatan antara pendidik dengan pengajaran, yang tidak kelihatan namun sangat nyata di semua masyarakat. Pendidik di masyarakat, sebagaimana di dalam masyarakat Islam, lebih dari sekedar pejabat, pendidik merupakan teladan bagi anak didik.

 

Jadi, setelah kita lihat baca dengan seksama perlu kita ketahui dan pahami bahwa Kurikulum sebagai basis pendidikan, bukan sekedar memuat sejumlah mata pelajaran akan tetapi meliputi seperangkat proses atau segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti pengalaman pendidikan, kebudayaan sekolah, sumber pengajaran baik yang berada di dalam maupun di luar sekolah seperti perpustakaan, museum, majalah, surat kabar, televisi, radio atau perangkat bahan pengajaran, baik keras (hardware) maupun lunak (software) yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

 

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Selasa, 13 April 2021

Laporan Bacaan Magang 1

           

 

Laporan Bacaan : Kultur Sekolah ( Magang 1 )

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

NIM : 11901145

Sumber : https://www.researchgate.net/publication/332195701_Kultur_Sekolah

 

 

 

 

Assalamua’alaikum wr.wb

 

Pada Blog kali ini, saya ingin membahas tentang Kultur Sekolah. Sebelum kita masuk jauh kedalam materi alangkah lebih baiknya kita perlu tahu apa itu kultur dan sekolah Karena tentu saja dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda dan ketika disambungkan akan menjadi sebuah pengertian.

 Kultur dalam KBBI( Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan budaya atau kebudayaan atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal atau budi manusia.

Sekolah merupakan suatu lembaga yang digunakan untuk kegiatan belajar bagi para pendidik serta menjadi tempat memberi dan juga menerima pelajaran yang sesuai dengan bidangnya. Sekolah menjadi salah satu tempat untuk mendidik anak-anak dengan maksud untuk memberikan ilmu yang diberikan supaya mereka mampu menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan juga negara. Sekolah memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan bangsa.

 Bersumber dari  Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No. 1, 2013 Kultur Sekolah  oleh Ariefa Efianingrum. Dapat dipahami bahwa persekolahan (schooling), sekolah memiliki konsekuensi dan tantangan yang semakin berat, terkait dengan tuntutan masyarakat terhadap kualitas dan layanan pendidikan yang seharusnya diberikan. Sekolah dipercaya sebagai institusi yang menjadi arena pengembangan aneka potensi dan kecerdasan majemuk siswa (multiple intelligences). Oleh karena itu, upaya perbaikan sekolah perlu didorong menjadi aktivitas yang melekat (embedded) dalam setiap gerak perubahan sekolah.

Dalam membangun pendidikan di sekolah, terdapat dua wacana besar:

            1.Wacana pertama adalah academic achievement discourses (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi (meliputi: deregulasi, desentralisasi, perubahan kurikulum, dan pelatihan).

2.Wacana kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” (Suyata, 2000).

Dari Wacana diatas tersebut terbentuk karena adanya pembangunan pendidikan disekolah bisa dikatakan sebagai faktor pendukung agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Ambil saja satu contoh yaitu Perubahan Kurikulum.

Perubahan Kurikulum sangat mempengaruhi kualitas suatu sekolah terutama pendidikan. Arti dari kurikulum itu sendiri adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran

Serta perkembangan individu baik Pendidik dan Peserta didik.

Kunci Keberhasilan Pendidikan seringkali justru terletak pada faktor-faktor yang tidak teramati (intangible) seperti nilai-nilai budaya dan keyakinan. Namun, faktor kultur tersebut seringkali terabaikan dalam upaya perbaikan pendidikan. Berkaitan dengan pendapat tersebut, pendapat yang lain mengemukakan adanya dua

pendekatan dalam perubahan pendidikan di sekolah:

Pertama adalah pendekatan struktural yang memusatkan perhatian pada pengubahan aspek-aspek strukturalbirokratik, seperti job descriptions, tatanan birokrasi, pengaturan hubungan antar unit organisasi, gaya kepemimpinan, dan aspek

struktur sekolah lainnya.

            Kedua adalah pendekatan budaya dengan pusat perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence), yang menekankan pengubahan pada pikiran, kata-kata, sikap,perbuatan dan hati setiap warga sekolah. Pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan struktural”(Sastrapratedja, 2001).

 

 

 

 

Budaya sekolah

 

 Budaya Sekolah merupakan himpunan normanorma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002),

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

 3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.

Implikasi Kultur Sekolah

 Dalam Perbaikan Sekolah Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah.

Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1.      Visi dan Nilai (Vision and Values)

visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.

 

 

 

2.      Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Momentum-momentum penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk me-recharge esprit de corps yang dimiliki sekolah untuk menggelorakan visi dan spirit sekolah

3.      Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini.

4.      Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu (mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik,dll.

Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1.      Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.

 

 

2.      Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.

3.Karakter Karakter

berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik.

4.Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan..

 

Jadi, Kultur sekolah itu memiliki peran simbolik yang penting dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran bagi siswa. Kultur sekolah meliputi faktor material yang tangible dan non- material yang intangible. Realitas menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor yang tak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah pada proses restrukturisasi semata, tidak lagi memadai. Namun demikian, restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat kultural tidak perlu saling menegasikan dalam praktiknya.

Wa'alaikumsalam wr.wb