Rabu, 16 Juni 2021

Laporan Bacaan 4

 

 

Laporan Bacaan 4 Magang 1

Oleh : Evilia Wandari

Kelas : PAI 4B

Nim : 11901145

 

Assalamua’alaikum Wr.Wb

 

Hallo..pada minggu lalu saya sudah membahas tentang Strategi jadi  strategi pembelajaran merupakan hal yang tepat akan membina peserta didik untuk berpikir mandiri, kreatif dan sekaligus adaptif terhadap berbagai situasi yang terjadi dan yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, ketika mempersiapkan perkuliahan, dosen atau guru harus memikirkan cara yang tepat, agar mahasiswa, peserta didik, warga belajar mampu memproses informasi yang telah disampai oleh guru, dosen atau para pengajar.

Dan pada kali saya akan membahas tentang media pembelajaran, Apa itu Media pembelajaran? Media pembelajaran adalah media-media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.

Dalam media pembelejaran juga terdapat Landasan-Landasan.

Landasan Penggunaan Media Pembelajaran Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan prilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bunner (1966) yang dikutib Azhar Asyad ada tiga tingkatan utama modus belajar antara lain :

 (a) Pengalaman langsung (enative), adalah mengerjakan, misalnya arti kata simpul dipahami langsung dengan membuat simpul,

 (b) Pegalaman piktorial/gambar (iconic), adalah pengalaman yang diperoleh melalui gambar, misalnya kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan foto, atau film meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat simpul mereka dapat mempelajari dan memahami dari gambar tersebut,

(c) Pengalaman abstrak (symbolic), adalah pembacaan kata simpul dan mencocokkan dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul.

Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indra. Semakin banyak alat indra yang dugunakan untuk menerima dan mengolah informasi tersebut, maka informasi akan dapat bertahan dan tesimpan dalam ingatan. Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone of Experience (kerucut pengalaman Dale).

Macam-macam media pembelajaran

            Media Pembelajaran banyak sekali jenis dan macamnya. Mulai yang paling kecil sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat oleh guru sendiri, ada media yang diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkungan yang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula media yang secara khusus sengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran. Media pembelajaran dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Media Nonelektronik

a. Media Cetak Media cetak adalah cara untuk menghasilkan atau mnyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses percetakan mekanis atau fotografis.19 Contoh media cetak ini antara lain buku teks, modul, buku petunjuk, grafik, foto, lembar lepas, lembar kerja, dan sebagainya. Media ini menghasilakan materi pembelajaran dalam bentuk salinan tercetak. Dua komponen pokok media ini adalah materi teks verbal dan materi visual yang dikembangkan berdasarkan teori yang berkaitan dengan persepsi visual, membaca, memproses informasi, dan teori belajar.

b. Media Pajang Media pajang umumnya digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi didepan kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, white board, papan magnetik, papan buletin, chart dan pameran. Media pajang paling sederhana dan hampir selalu tersedia disetiap kelas adalah papan tulis.

 c. Media Peraga dan Eksperimen Media peraga dapat berupa alat-alat asli atau tiruan, dan biasanya berada di laboratorium.Media ini biasanya berbentuk model dan hanya digunakan untuk menunjukkan bagian-bagian dari alat yang asli dan prinsip kerja dari alat asli tersebut. Di samping media peraga terdapat pula media eksperimen yang berupa alat-alat asli yang biasanya digunakan untuk kegiatan praktikum.

 

2. Media Elektronik

a. Overhead Projector (OHP) Media transparansi atau overhead transparency (OHT) sering kali disebut dengan nama perangkat kerasnya yaitu OHP (overhead projector). Media transparansi adalah media visual proyeksi, yang dibuat di atas bahan transparan, biasanya film acetate atau plastik berukuran 81/2” x 11”, yang digunakan oleh guru untuk memvisualisasikan konsep, proses, fakta, statistik, kerangka outline, atau ringkasan di depan kelompok kecil/besar.20

b. Program Slide Instruksional Slide merupakan media yang diproyeksikan dapat dilihat dengan mudah oleh para siswa di kelas. Slide adalah sebuah gambar transparan yang diproyeksikan oleh cahaya melalui proyektor.21

 c. Program Film Strip Film strip adalah satu rol positif 35 mm yang berisi sederetan gambar yang saling berhubungan dengan sekali proyeksi untuk satu gambar.

 

3. Media Pendidikan Agama Islam

Para Nabi menyebarkan agama kepada kaumnya atau kepada umat manusia bertindak sebagai guru-guru yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana pendidikan keagamaan yang agung dan benar. Usaha Nabi dalam menanamkan aqidah agama yang dibawanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, dengan menggunakan media yang tepat yakni melalui media perbuatan Nabi sendiri, dan dengan jalan memberikan contoh teladan yang baik. Sebagai contoh teladan yang bersifat uswatun hasanah, Nabi selalu menunujukkan sifat-sifat yang terpuji, hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab 21.

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu (yaitu) orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. Nabi selalu memberikan contoh tauladan atau menjadikan dirinya sebagai model dalam mendakwahkan seruan Allah.

Media pendidikan agama adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi pendidikan agama, baik yang berupa alat yang dapat diragakan maupun teknik/metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Semua alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai pendidikan dan pengajaran agama kepada orang lain, segala sesuatu atau benda atau dapat dipakai sebagai media pengajaran agama, seperti;

 1) papan tulis,

 2) buku pelajaran,

3) buletin board dan display,

4) film atau gambar hidup,

5) radio pendidikan,

6) televisi pendidikan,

7) komputer,

8) karyawisata, dan lain-lain.

 

Manfaat Media pembelajaran

Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.27 Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu28 :

a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.

b. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.

Dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran mempunyai arti bahwa media pembelajaran diperbaharui sedemikian rupa sehingga terbentuklah media pembelajaran yang sistematis, terarah serta efektif dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.

 

 

 

Rabu, 09 Juni 2021

Lapora Bacaan 3 Magang 1

 

 

Laporan bacaan 3 : Strategi Pembelajaran


Oleh    : Evilia Wandari

Kelas   : PAI 4B

Nim     : 11901145

 

Assalamua’alaikum Wr.Wb

 

Dalam pembahasan laporan bacaan 2 lalu saya membahas tentang kurikulum dalam pendidikan jadi dalam laporan bacaaan 3 ini saya akan membahas tentang strategi pembelajaran. Perlu kita ketahui dulu bahwa Istilah strategi dewasa ini banyak dipakai oleh bidang-bidang ilmu lainnya, termasuk juga dalam dunia pendidikan. Secara umum strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Kemudian jika dihubungkan dengan kegiatan belajar mengajar, maka strategi dalam artian khusus bisa diartikan sebagai pola umum kegiatan yang dilakukan guru-murid dalam suatu perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. (Abu Ahmadi, dan Joko Tri Prasetya, 1997: 12) Dalam pemilihan strategi haruslah dipilih strategi yang tepat, pengajaran yang diberikan kepada anak didik tidak bersifat paksaan bahkan perilaku pemimpin kadang tidak perlu dilakukan. Sebagai gantinya, para pendidik harus bersikap ngemong atau among.

Para guru seharusnya tidak mengajarkan pengetahuan mengenai dunia secara dogmatik. Sebaliknya mereka hanya berada dibelakang anak didik sambil memberi dorongan untuk manju, secara khusus mengarahkan ke jalan yang benar, dan mengawasi kalau-kalau anak didik menghadapi bahaya atau rintangan. Anak didik harus memiliki kebebasan untuk maju menurut karakter masing-masing dan untuk mengasah hati nuraninya. Dengan demikian tugas pendidik adalah memikirkan dan memilih strategi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya.

demikian tugas pendidik adalah memikirkan dan memilih strategi yangsesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya. Tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan akan dapat tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna, maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran sedemikian rupa sehingga terjalin keterkaitan fungsi antara komponen pembelajaran yang dimaksud. Untuk melaksanakan tugas secara profesional guru diharuskan memiliki wawasan yang mantap tetang strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan belajar atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, baik dalam arti efek instruksional
 sesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya.strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Metode pembelajaran yang bisa dipilih dari konsep strategi pembelajaran yaitu

 1. Ceramah.

2. Diskusi kelompok.

 3. Demonstrasi.

 4. Simulasi.

5. Pengalaman lapangan.

 6. Mind Mapping.

7. Drama dsb.

 

Dalam kurikulum 2013 strategi pembelajaran atau model pembelajaran ada 5,yaitu :

Strategi Inkuiri Learning didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

 

Strategi Problem Based Learning (PBL) merupakan metode pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch,1995).

 

Strategi Project Based Learning merupakan pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

 

Strategi Saintifik Learning merupakan Proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar  peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.

Unsur Unsur Strategi Pembelajaran

            Supaya dapat merancang strategi pembelajaran yang baik Agar dapat merancang serta melaksanakan strategi pembelajaran yang efektif perlu memperhatikan unsur-unsur strategi dasar atau tahapan langkah sebagai berikut:

1. selalu dijadikan acuan dasar dalam merancang dan melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu tujuan pembelajaran perubahan perilaku tertentu dan operasional dalam arti dapat diukur.

 2. Memilih pendekatan pembelajar, suatu cara pandang dalam menyampaikan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran harus dipertimbang dan dipilih jalan pendekatan utama yang dipandang paling ampuh, paling tepat, dan paling efektif guna mencapai tujuan.

3. Memilih dan menetapkan metode, teknik, dan prosedur pembelajaran.

a. Metode merupakan cara yang dipilih untuk menyampaikan bahan sesuai dengan tujuan pembelajaran

b. Teknik merupakan cara untuk melaksanakan metode dengan sarana penunjang pembelajaran yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kecepatan dan ketepatan belajar untuk mencapai tujuan

c. Merancang Penilaian

d. Merancang Remedial

e. Merancang Pengayaan.

Macam-Macam Strategi.

Secara umum strategi pembelajaran dibagi menjadi tiga, yaitu :

1). Strategi Indukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang memulai dari hal-hal yang khusus barulah menuju hal yang umum.

 2). Strategi Dedukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang umum menuju hal-hal yang khusus

3). Strategi campuran adalah gabungan dari strategi indukatif dan dedukatif. Adapula strategi regresif yaitu strategi pembelajaran yang memakai titik tolak jaman sekarang untuk kemudian menelusuri balik (kebelakang) ke masa lampau yang merupakan latar belakang dari perkembangan kontemporer tersebut.

Ruang Lingkup Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran aktualisasinya berwujud serangkaian dari keseluruhan tindakan strategis guru dalam rangka mewujudkan kegiatan dari tingginya kuantitas dan kualitas hasil belajar yang dicapai. sesuai dengan waktu, fasilitas, maupun kemampuan yang tersedia.

Secara singkat, menurut Slameto strategi pembelajaran mencakup 8 unsur perencanaan yaitu :

 1. Komponen sistem yaitu guru/dosen, siswa/mahasiswa baikdalam ikatan kelas, kelompok maupun perorangan yang akan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar telah disiapkan,

2. Jadwal pelaksanaan , format dan lama kegiatan telah disiapkan,

3. Tugas-tugas belajar yang akan dipelajari.

 4. Materi/bahan belajar, alat pelajarandan alat bantu mengajar yang disiapkan dan diatur,

5. Bahan pengait yang telah direncanakan,

6. Metode dan teknik penyajian telah dipilih, misalnya ceramah, diskusi dan lain sebagainya, dan

7. Media yang akan digunakan. (Slameto, 1991: 91-92) Keseluruhan tindakan strategis guru dalam upaya merealisasikan kegiatan pembelajaran, mencakup dimensi yang bersifat makro (umum) maupun bersifat mikro (khusus).

Dan Secara makro, strategi pembelajaran berkait dengan tindakan strategis guru dalam: (a) memilih dan mengoperasionalkan tujuan pembelajaran (b) memilih dan menetapkan setting pembelajaran (c) pengelolaan bahan ajar (d) pengalokasian waktu (e) pengaturan bentuk aklivitas pembelajaran (f) metode teknik dan prosedur pembelajaran (g) pemanfaatan penggunaan media pembelajaran (h) penerapan prinsip-prinsip pembelajaran (i) penerapan pendekatan pola aktivitas pembelajaran (j) pengemabangan iklim pembelajaran (k) pemilihan pengembangan dan pelaksanaan evaluasi. (Supriadi Saputro, 2000: 23-24).

 

Jadi strategi pembelajaran ini merupakan Proses belajar mengajar konvesional umumnya berlangsung satu arah yang merupakan proses transfer atau pengalihan pengetahuan, informasi, norma, nilai, dan lain-lainnya dari seorang guru atau dosen kepada peserta didik, murid atau mahasiswa. Proses seperti itu dibangun atas dasar anggapan bahwa siswa atau peserta didik ibarat bejana kosong atau kertas putih. Guru, dosen atau pengajarlah yang harus mengisi bejana tersebut atau menulis apapun di kertas putih tersebut. Paradigma muncul, karena tidak lagi melihat siswa, murid, mahasiswa, peserta didik atau warga belajar sebagai bejana kosong atau seperti kertas putih. Pandangan ini menganggap bahwa peserta didik, warga belajar, terutama orang dewasa, sebagai manusia yang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, perasaan, keyakinan, cita-cita, kesenangan dan keterampilan.

Maka dari itu sangat perlu pengalaman mereka harus kita hargai dan diangkat dalam proses dan aktivitas pembelajaran di kelas. Hal ini juga berimplikasi terhadap perlunya strategi pembelajaran yang interaktif baik antara mahasiswa dengan dosen maupun antar mahasiswa. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang tepat akan membina peserta didik untuk berpikir mandiri, kreatif dan sekaligus adaptif terhadap berbagai situasi yang terjadi dan yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, ketika mempersiapkan perkuliahan, dosen atau guru harus memikirkan cara yang tepat, agar mahasiswa, peserta didik, warga belajar mampu memproses informasi yang telah disampai oleh guru, dosen atau para pengajar.